PENYEBAB MENINGKATNYA KRISIS SOSIAL MASYARAKAT

Untukmu Indonesiaku, Oleh : Mohamad Adiguna

Beberapa waktu belakangan sudah sering melihat dan mendengar adanya tawuran yang terjadi antar warga maupun antar etnis, dan yang paling aneh kejadian tersebut bukan terjadi di pelosok-pelosok, namun terjadi di kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Hal ini sangat membuat kita tercengang mengapa hal tersebut bisa terjadi di kota-kota besar yang notabene kota tersebut isinya penuh dengan aparat penegak hukum handal sampai ke Presiden. Seharusnya faktor keamanan, ketertiban, dan stabilitas sosial justru akan lebih baik di perkotaan, karena masyarakatnya lebih produktif, dinamis, maju, dan berpendidikan. Namun yang terjadi sebaliknya adalah, masyarakat di kota lebih brutal dari pada masyarakat Papua, lebih brutal dan tidak memiliki pola pikir yang logis mengenai tindakan yang dilakukannya dan apa dampaknya terhadap stabilitas ekonomi maupun sosial.

Saya mencoba mendeskripsikan faktor yang penyebab krisis sosial yang begitu banyak terjadi pada berbagai elemen dan lapisan masyarakat Indonesia :

1. Ajaran Orang Tua/Orang Rumah

Ada sebuah pribahasa yang teman saya sampaikan dulu, “buah tak jauh jatuh dari pohonnya”, mungkin maksud dia adalah, apa yang diajarkan oleh Orang Tua kita adalah akan menjadi bekal kita menjadi apa kita di masa depan, meskipun tidak semua anak itu akan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Orang Tua, namun hal ini akan menjadi sangat penting jika Orang Tua sebagai pendamping utama anaknya dalam bersosialisasi dengan masyarakat, meskipun tidak secara langsung mendampingi, namun ajaran Orang Tua yang baik dapat menumbuhkan karakter anak yang soleh dan menjadi satu pegangan kuat agar ketika mereka bergaul dengan lingkungan baru, anak akan tetap memegang teguh prinsip utama seperti apa yang diajarkan kedua Orang tuanya.

2. Pendidikan

Faktor pendidikan adalah kunci utama peningkatan kualitas bangsa, kemajuan bangsa dapat diraih jika pendidikan masyarakatnya mampu menopang kemajuan peradaban. Saat ini yang terjadi di Indonesia, ketimpangan pendidikan masih terjadi, banyak orang yang memiliki gelar sarjana, namun banyak juga yang hanya bersekolah sampai SD, bahkan tidak bersekolah. Padahal pendidikan adalah pondasi utama untuk membentuk karakter bangsa menjadi lebih baik dalam segala tindakan maupun pola pikir dalam kemasyarakatan. Sehingga akan ada pengaruh dari seseorang yang tidak berpendidikan memunculkan masalah-masalah sosial seperti tindakan kriminal, dan tindakan lain yang tidak logis yang dapat merugikan bangsa, maka tidak heran banyak kita dengar berita-berita kriminal maupun tawuran yang terjadi di Indonesia yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat bawah yang notabene tidak cukup mampu untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih baik.

Pemerintah dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan dan pengatur masyarakat, harus mampu menjawab ketimpangan pendidikan yang terjadi di Indonesia, salah satunya adalah dengan menetapkan wajib belajar 12 Tahun seperti yang diterapkan di Jepang, karena kebutuhan dunia kerja saat ini adalah untuk lulusan SMA/SMK keatas, dan bisa dikatakan bahwa lulusan SMP saja itu tidak akan laku di dalam dunia kerja.

3. Pengangguran

Setuju jika awal permasalahan pengangguran berasal dari Pendidikan, program wajib belajar 9 Tahun yang ditetapkan oleh pemerintah sangat tidak membantu masyarakat untuk terjun ke dunia kerja, kebutuhan dunia kerja saat ini adalah minimal SMA/SMK. Dan jika saja pemerintah dapat menggratiskan Sekolah Menengah Atas, maka akan lebih banyak lagi masyarakat yang dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik dan lebih kredibel. Wajib belajar 12 Tahun sudah seharusnya diterapkan di Indonesia agar angka pengangguran dapat ditekan.

Pengangguran juga harus ditekan karena masyarakat akan menjadi stres, marah, dan bimbang jika mereka harus menganggur, sehingga akan muncul solusi pintas yang dilakukan oleh masyarakat yang menganggur tersebut yaitu tindakan pencurian sampai tindakan kriminal. Tak heran jika saat ini perilaku anarkis di masyarakat sangat sering terjadi, hal itu sebagai bukti bahwa masyarakat sudah bimbang dan terjadi krisis moral serta mental yang terjadi akibat situasi ekonomi yang semakin menghimpit, sehingga masyarakat akan mudah untuk emosi, mengamuk, dan brutal meskipun karena hal sepele. Dan itu terjadi karena mereka menganggur dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

4. Ledakan Penduduk

Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia menjadi salah satu faktor penentu meningkatnya krisis sosial yang terjadi di Masyarakat, semakin banyak penduduk maka akan semakin banyak dan semakin kompleks juga permasalahan yang dihadapi, kuantitas dari penduduk yang banyak tidak serta merta melahirkan kualitas kependudukan yang baik, terutama di Negara berkembang semua tatanan kehidupan belum terlalu stabil seperti Negara maju, maka munculah sebuah masalah negatif ditengah pembangunan bangsa. Untuk mengendalikan jumlah penduduk yang begitu cepat, maka pemerintah wajib membuat aturan-aturan yang mampu mengendalikan penduduk agar tidak pesat bertambah. Salah satunya adalah dengan program Keluarga Berencana, bisa dikatakan program KB pasca reformasi gagal, karena pemerintah kurang mempublikasikan apa kelebihan dengan mengikuti program KB. Baru saat ini awal tahun 2011, BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menggembor-gemborkan program utamanya untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui KB.

Jumlah penduduk usia produktif Indonesia lebih banyak ketimbang usia non-produktif, hal inilah yang mengancam ketahanan stabilitas sosial, karena pada saat usia produktif lah terjadi pergolakan dan semangat pemuda untuk hidup dan memiliki tenaga untuk bekerja serta berusaha, maka harus di beri wadah berupa Lapangan Pekerjaan agar usia produktif tidak menganggur dan melenceng kepada hal yang negatif.

5. Pembangunan yang Tidak Merata

Lagi-lagi infrastruktur menentukan peningkatan tatanan Ekonomi masyarakat, pembangunan infrasturktur Indonesia yang sangat tidak merata dan cenderung tersentralisasi ke kota-kota besar di Jawa terutama Jakarta, menjadi faktor penentu khusus meningkatnya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota (Urbanisasi). Mungkin bagi kita, kata “Urbanisasi” seperti belajar ketika duduk di bangku SD, namun intisari dari urbanisasi mengandung arti yang sangat bermakna dan penting, pemerintah seolah lupa bahwa sekarang Urbanisasi sudah sangat parah sekali akibat pembangunan yang tidak merata. Bayangkan saja kerusuhan yang terjadi di SMAK Dago, mengapa Orang luar Bandung begitu banyak ada di Kota Bandung? Dan mereka membuat masalah disana, mungkin tidak semua orang luar, tapi hanya beberapa provokator yang terlibat disana. Jika kita telaah lebih lanjut, hal tersebut dikarenakan mereka berusaha bertahan hidup ke kota besar di Jawa dengan harapan mendapatkan kehidupan yang layak karena pembangunan infrastruktur tidak pernah terasa hingga daerahnya. Namun yang terjadi mereka tidak memiliki keterampilan yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di kota besar, dan berakibat mencari pekerjaan lain yang nota bene dapat merugikan dirinya sendiri yang penting mereka dapat bertahan hidup. Kira-kira seperti itulah arus Urbanisasi yang terjadi, tanpa dan dengan keterampilan, mereka tetap pindah ke kota dan berharap mendapatkan kehidupan yang layak di perkotaan.

Disini ada sebuah solusi untuk dipegang teguh oleh pembuat kebijakan, bahwa Indonesia terdiri dari 3 kawasan luas, yaitu Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Pemerintah perlu menyadari bahwa ketiga kawasan tersebut perlu dibangun secara adil dan merata, sehingga faktor kecemburuan terhadap wilayah lain akan berkurang dan mereka akan berusaha untuk membangun dan berkarya di wilayahnya sendiri tanpa melakukan Urbanisasi dan menimbulkan masalah baru di perkotaan.

Selain kelima faktor diatas, aparat penegak hukum harus turut serta berperan dengan tegas dalam proses pembangunan, aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian harus dapat merangkul rakyat juga harus dapat melindungi rakyat, mereka yang turut serta membangun bangsa dengan menjadi pribadi yang disiplin dan mengikuti peraturan-peraturan di Indonesia perlu dirangkul, namun bagi mereka yang membuat onar dan merusak tatanan sosial dengan melakukan tindakan kriminal dan kejahatan perlu ditindak secara tegas tanpa tebang pilih, sehingga timbul efek jera. Efek jera terhadap oknum premanisme dan kriminalisme perlu diterapkan dengan memberikan hukuman yang setimpal sesuai dengan peraturan yang ada tanpa pandang bulu.

Semoga dapat menjadi inspirasi untuk solusi Indonesia kita bersama..

About Mohamad Adiguna

Ketika ada sebuah objek baru terlihat sekilas, saya tidak segan mencari tahu dan meng-explore sampai saya tau apa itu dan makna nya untuk saya.. hingga sebuah kesimpulan muncul tentang diri saya.. "i enjoy explore a new horizon" View all posts by Mohamad Adiguna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

warungkopipemda

Tempat yang hangat dan santai untuk berbagi

Run Around Girl

A MOM'S LIFE + FOOD AND TRAVEL ADVENTURES

pica cordoba

90 DAYS IN EAST TIMOR

500 Photographers

Just another WordPress.com site

Photography Blogger

Just another WordPress.com site

The Model Railways of Chris Nevard's Blog

Just another WordPress.com site

National Railway Museum blog

Behind the scenes at the biggest railway museum in the world

archieobject

Just another WordPress.com site

flicker free

just pure, clean photography

%d bloggers like this: